Minggu, 14 Februari 2016

laporan kimia cara menyatakan konsentrasi



LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA









Nama                                : Nur Hidayah
NPM                                 : E1D015045
Prodi                                  : Agribisnis
Kelompok                          : 4 (empat)
Hari / jam                          : Jumat, 08:00-09:40 WIB
Tanggal                             : 6 November 2015
Ko-Ass                              : 1. Retno Windy
   2. Tri Nur Rodiyah
Dosen                               : Drs. Hasan B.Daulay, MS
Objek Praktikum                   : Cara-Cara Menyatakan          Konsentrasi Larutan



LABORATORIUM TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015





BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Larutan merupakan istilah yang tak asing lagi ditelinga kita, karena dalam kehidupan sehari-hari larutan sering kali disebut. Kita pun sudah mempelajarinya sejak di bangku sekolah menengah. Larutan didefinisikan sebagai campuran homogeny yang memiliki komposisi merata diseluruh bagian volumenya. Suatu larutan terdiri dari satu atau beberapa macam zat terlarut dan satu pelarut. Secara umum zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya sedikit sedangkan pelarut adalah komponen yang terdapat dalam jumlah banyak dibandingkan dengan zat terlarut.
            Larutan memiliki tiga fase, yaitu fase gas, padat dan cair. Larutan gas misalnya udara. Larutan padat misalnya perunggu, besi dan logam lainnya. Sedangkan larutan cair contohnya larutan teh, kopi dan air laut, dimana setiap larutan memiliki konsentrasi yang berbeda-beda.
        Di dalam larutan yang mengandung dua komponen yaitu komponen zat terlarut dan pelarut disebut sebagai larutan biner.Kemampuan pelarut melarutkan zat terlarut pada suatu suhu mempunyai batasan tertentu. Larutan dengan jumlah maksimum zat terlarut pada temperatur tertentu disebut sebagai larutan jenuh. Sebelum mencapai titik jenuh, larutan disebut larutan tidak jenuh. Namun kadang- kadang dijumpai suatu keadaan dengan zat terlarut dalam larutan lebih banyak daripada yang seharusnya dapat larut dalam pelarut tersebut pada suhu tertentu. larutan yang mempunyai kondisi seperti ini dikatakan sebagai larutan lewat jenuh.
            Larutan dapat dibuat dari dua macam zat, yaitu zat padat dan zat cair. Larutan dibuat untuk mendapatkan campuran larutan dari dua zat atau lebih. Larutan memiliki dua sifat, yaitu larutan eksoterm dan larutan endoterm.
1.2  Tujuan Percobaan
1.      Menjelaskan berbagai satuan konsentrasi larutan
2.      Mampu membuat larutan pada berbagai tingkatan konsentrasi



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Larutan didefinisikan sebagai campuran dua zat atau lebih yang homogen terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan dapat dibagi menjadi larutan padat, gas, dan cair. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil solute (zat terlarut) relatif terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute.
       Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuan-satuan konsentrasi, yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm serta ditambah dengan persen massa dan persen volume (Baroroh, 2004).
Konsentrasi merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut. Cara menyatakan konsentrasi larutan ada beberapa macam, di antaranya:
1.      Persen berat ( % W/W)
Menyatakan banyaknya gram zat terlarut dalam gram larutan          
2.      Persen volume (% V/V)
Menyatakan volume (ml) zat terlarut dalam volum larutan (ml)
3.      Persen berat per volume (% W/V)
Menyatakan jumlah gram zat terlarut dalam 100 ml larutan
4.      Part permillion (ppm) dan part perbillon (ppb)
Konsentrasi ppm dan ppb digunakan untuk larutan yang sangat encer
5.      Fraksi mol (fx)
Menyatakan jumlah zat terlarut atau pelarut dalam larutan
6.      Molaritas (M)
Menyatakan jumlah mol zat terlarut per liter larutan
7.      Molalitas (m)
Menyatakan jumlah mol zat terlarut per kilogram (1000 g) pelarut
8.      Normalitas (N)
Menyatakan banyaknya mol ekivalen zat terlarut dalam liter larutan.

BAB III
METODELOGI


3.1 Alat dan Bahan

Alat:                                                                Bahan:
1.      Pipet Ukur                                           1. H2SO4
2.      Pipet Gondok                                      2. NaCl
3.      Neraca Analitik                                   3. NaOH
4.      Botol Semprot                                     4. Etanol
5.      Kaca Arloji                                          5. KlO3
6.      Labu Ukur                                           6. HCl
7.      Bola Hisap                                          7. Asam Oksalat
8.      Sikat Tabung Reaksi                           8. Urea
9.      Corong

3.2  Cara Kerja

3.2.1   Membuat Larutan NaCl 1 %
Ditimbang sebanyak 0,5 gram NaCl dengan neraca analitik, kemudian dilarutkan dengan aquades di dalam Labu Ukur 50 ml, sampai tanda batas.

3.2.2   Membuat Larutan Etanol 5%
Dipipet sebanyak 2,5 ml etanol absolute dengan pipet ukur, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml. Tambahkan aquades sampai tanda batas. Kocok sampai larutan menjadi homogen.


3.2.3   Membuat Larutan 0,01 M KIO3 ( Mr. 214 gram/mol )
Ditimbang sebanyak 0,107 gram KIO3 dengan Neraca Analitik, kemudian dimasukkan ke dalam Labu Ukur 50 ml dan dilarutkan ke dalam aquades sampai tanda batas.
 3.2.4 Membuat larutan 0,1 M H2SO4 (Mr.98 gram/mol)
Di pipet sebanyak 0,5 ml H2SO4 dengan pipet ukur,kemudian diencerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
v  Labu ukur 50 ml diisi terlebih dahulu dengan aquades,kira-kira 25 ml, selanjutnya ditambahkan  ditambahkan lagi dengan aquades sampai tanda batas. Cara seperti ini juga berlaku untuk membuat larutan asam kuat dan basa kuat yang lain.

3.2.5   Membuat Larutan 0,1 N HCl ( Mr. 36,5 gram/mol )
Dipipet sebanyak 0,415 ml HCl 37% dengan pipet ukur, kemudian diencerkan dengan aquades dalam Labu Ukur 50 ml sampai tanda batas.

3.2.6   Membuat Larutan 0,1 N Asam Oksalat ( Mr. H2C2O4. 2H2O. 126 gram/mol )
Ditimbang 0,3151 gram asam oksalat dengan neraca analitik, kemudian diencerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.

3.2.7 Membuat Larutan 1 N NaOH ( Mr, 40 gram/mol )
Ditimbang 0.2 gram NaOH, kemudian diencerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanpa batas.

3.2.8   Membuat Larutan 1000 ppm Nitrogen ( N2 ) dalam Urea ( Mr. CO(NH2)2 60 gram/mol )
Ditimbang 0,1086 gram urea dengan neraca analitik kemudian diencerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.










BAB IV
HASIL PENGAMATAN


1.      Membuat Larutan NaCl 1%
% W/V   = gram zat terlarut  x 100 %
                                  ml larutan
            1%          = gram zat terlarut   x 100%
                                    50 ml
                 100 g = 50 ml
                        g = 50 ml / 100
       gram NaCl  = 0,5 g

2.      Membuat Larutan Etanol 5%
% V/V    = ml zat terlarut   x 100%
                                 ml larutan
            5%          = ml zat terlarut   x 100%
                                 50 ml
            250 ml    = 100 ml
ml etanol         = 2,5 ml
3.      Membuat larutan 0,01 M KIO3
               M      =          ___gram zat terlarut    _       
                                    Mr  zat terlarut x liter larutan
          0,01 M   =          __gram terlarut_
                                                 214 x 0,05 l
         Gram KlO3         =          0,107 gram
4.      Membuat Larutan 0,1 M H2SO4
0,5 x 1,303      =          0,6515 gram
M =  0,6515    = 0.6515   =  0,13 gram 98 x 0,05 
                                          4,9




5.      Membuat Larutan 0,1 N HCl
      N        = mol ekivalen zat terlarut ( Ek )             Ek = Gram zat terlarut
                                volume larutan                                          BE    
BE     = Mr / n                                                    37 / 100 x 0,415 = 0,15355 gram
           = 36,5 / 1 = 36,5
Ek      = 0,15355 gram  =  0,0042                      N =     0,0042   =  0,08 N
                          36,5                                                              0,05

6.      Membuat Larutan 0,1 N Asam Oksalat
      BE     = 126 / 2          = 63
      EK     = 0,3151 / 63    = 0,005
       N       = 0,005 / 0,05   = 0,1

7.      Membuat Larutan 1 N NaOH
       BE    = 40 / 10       = 4
       Ek     = 0,2 / 4        = 0,05
        N      = 0,05 / 0,05 = 1

8.      Membuat Larutan 1000 ppm N2 dalam Urea
      ppm =   0,1086   x 106 
                 50 gram
      ppm = 2172 / gram












BAB V
PEMBAHASAN

1.   Membuat Larutan Nacl 1%
Ditimbang sebanyak 0,5 gram Nacl dengan neraca analitik. Kemudian dilarutkan dengan aquades di dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas
2.   Membuat Larutan etanol 5%
Dipipet sebanyak 50 ml larutan absolute dengan pipet ukur, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml dan diencerkan dengan aquades sampai tanda batas
3.   Membuat Larutan 0,01 M KIO3 (Mr.214 gram/mol)
ditimbang sebanyak 0,107 gram KIO3 dengan neraca analitik, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml,di larutkan dengan aquades tanda batas.
4.  Membuat Larutan 0,1 M H2SO4
Ditimbang sebanyak 0,5 ml H2SO4 dengan dengan pipet ukur. Kemudian diencerkan ke dalam aquades di dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
5.   Membuat Larutan 0,1 N HCL (Mr.36,5 gram.mol)                                                                     
 Dipipet sebanyak 0,415 ml HCl 37% dengan pipet ukur kemudian diencerkan dengan    aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
6.   Membuat Larutan 0,1 N asam oksalat (Mr.H2C2O4.2 H2O.126 gram/mol)
Ditimbang 0,3151 gram asam oksalat dengan neraca analitik kemudian diencerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas
7.   Membuat larutan 1 N NaOH
Ditimbang sebanyak 0,2 gram asam oksalat dengan neraca analitik kemudian diencerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
8.   Membuat Larutan 1000 ppm N2 dalam Urea
Ditimbang 0,1086 gram urea dengan neraca analitik kemudian diencerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.







BAB VI
PENUTUP


6.1 Kesimpulan
       Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa :
Ø  Berbagai satuan konsentrasi larutan dapat dinyatakan banyaknya jika zat terlarut di dalam jumlah yang tertenu.
Ø  Membuat larutan pada berbagai konsentrasi ada beberapa cara, yaitu :
ü  Persen berat (% w/w)
ü  Persen volume (% V/V)
ü  Persen berat per volume (% W/V)
ü  Part permillion (ppm) dan part perbillion (ppb)
ü  Fraksi mol (fx)
ü  Molaritas (M)
ü  Molalitas (m)
ü  Normalitas (N)

6.2 Saran
Agar semua pratikan mampu menguasai materi percoabaan dan cermat serta teliti untuk dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Serta kedepannya dapat memberikan saran yang lebih baik dan tepat bagi praktikan.











JAWABAN PERTANYAAN

1)      80 gram H2SO4 dilarutkan dengan 120 gram air.
Dik : Mr. H2SO4 98 gram / mol          Mr. air ( H2O ) 18 gram / mol
BJ H2SO4 1303 gram / ml                   BJ Air 1 gram / ml
Konsentrasi H2SO4 100 %
Mr. air 18
a)      Persen Berat        = masa zat terlarut  x 100%   =  80 x 100%
                                                       Massa pelarut                            120
                                                  = 8000 / 120%                       = 66,69 %
b)      Molalitas ( m )     = mol zat terlarut                   =  98 gram / mol
                                    kg pelarut                                0,12 kg
                             = 816,67 mol / 1000 gram
c)      Molaritas ( M )     = mol zat terlarut
                                                        Liter larutan
                     V terlarut = 80 gram / 1,303 gram / ml = 61,39 ml
                     V pelarut = 120 gram / 1 gram / ml = 120 ml
                     V larutan = 181,39 ml = 0,18139 l
                     M             =   98 mol   =  540,27 mol / l
                                         0,18139 l
d)     Fraksi Mol zat terlarut
Mol terlarut = 0,816                   Mol pelarut = 6,67
X = jumlah mol terlarut   =  0,816  = 0,109
                                jumlah mol larutan        7,48
                     X = Jumlah mol pelarut  =  6,67  = 0,89
                             jumlah mol larutan     7,48


2)      Lengkapilah Tabel Dibawah ini

Zat
Terlarut
Gram Zat
Terlarut
Mol Zat
Terlarut
Volume
Larutan
Molaritas
NaNO3
25
A. 0,29 mol
B. 0,2416 l
1,2
NaNO3
C. 31,28 gram
D. 0, 368 mol
16 liter
0,023
KBr
91
E. 0,76 mol
450 ml
F. 1,699mol / l
KBr
G. 49,98 gram
0,42
 H. 0, 233 l
1,8



A.        Mol zat terlarut = gram / Mr
                          = 25 / 85
                          = 0,29 mol
B.     M = mol zat terlarut
            Liter larutan
  1,2 =     0,29
             liter larutan
   Liter larutan = 0,29 / 1,2 
                        = 0,2416 l
C.     Mol = massa zat terlarut
                       Mr
   0,368 = massa terlarut / 85
   massa terlarut = 85x0.368
                          = 31,28 gram
D.    M = mol zat terlarut
            Liter larutan
   0,023 = mol / 16
    mol = 16x0.023
           = 0,368
E.     Mol zat terlarut = gr / mr
                            = 91 / 119 = 0,76 mol
F.      M = Mol zat terlarut
            Liter larutan
        = 0, 76 mol / 0,45 l = 1,699 mol / l
G.    Mol zat terlarut = gram zat terlarut
                                       Mr
                  0,42    = Gram terlarut / 119
   gram terlarut     = 119x0.42
                             = 49,98 gram

 H.    M = mol zat terlarut
          Liter larutan
 1,8 = 0,42 / liter larutan
 liter larutan = 0,42 / 1,8 = 0, 233 l



















DAFTAR PUSTAKA

Hiskia Achmad, 1992, Wujud Zat dan Kesetimbangan Kimia. Bandung: CitraAditya Bakti
Atkins, PW. 1994, Physical Chemistry, 5th.ed. Oxford : Oxford University Press
Arthur A. Frost dan RG. Pearson, 1961. Kinetics and Mechanism, 2nd ed. New York : John Willey and Sons Inc
Endang W Laksono, Isana SYL, 2003, Kimia Fisika III, Jakarta : Universitas Terbuka

Jumat, 08 Januari 2016

Laporan kimia identifikasi senyawa organik



LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA UMUM









Disusun Oleh
Nama               : Nur Hidayah             
NPM                : E1D015045               
Prodi              : Agribisnis
Kelompok                : 4 (empat)
Hari/Jam                : Jumat, 08:00-09:40 WIB Tanggal             : 20 November 2015  
Ko-Ass             : 1. Retno Windy
                     2. Tri Nur Rodiyah       Dosen             : Hasan Basri Daulay, M.S 
Objek Praktikum    : Identifikasi Senyawa Organik          





LABORATORIUM TEKNOLOGi PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ilmu kimia merupakan ilmu yang secara luas mempelajari suatu bahan dan senyawa . di antara banyaknya hal yang di pelajari dalam ilmu kimia tersebut tentu kita mengenal bagianya yang di sebut kimia organik dimana cabang ini mempelajari senyawa organik yaitu suatu senyawa yang mengandung unsur karbon, hidrogen , oksigen dan nitrogen . Senyawa organik adalah senyawa -senyawa yang dibentuk oleh unsur karbon yang memiliki sifat-sifat fisik dan sifat - sifat kimia yang khas . Bahwa senyawa organik harus dipisah pembahasanya dari senyawa unsur lain semata - mata karena alasan jumlahnya yang demikian besar .
Identifikasi struktur senyawa organik merupakan masalah yang sering dihadapi dalam laboratorium kimia organik . Senyawa organik tersebut dapat diperoleh dari hasil suatu reaksi maupun isolasi bahan-bahan alam . Dalam melakukan identifikasi senyawa organik yang belum diketahui perlu dilakukan pemisahan dan pemumian komponen- komponen penyusun campuran semua metode pemisahan disarankan pada perbedaan sifat fisik dari komponen -komponen penyusun campuran . Teknik pemisahan seperti ekstraksi , yang di dasarkan pada perbedaan kelarutan , destilasi fraksinasi dan destilasi uap , yang didasarkan pada perbedaan tekanan uap .
Senyawa organik begitu penting untuk dilakukan pengidentifikasian , agar dapat mengetahui sifat-sifat dari suatu senyawa organik yang belum diketahui namanya atau sample larutan tidak tertera nama larutan atau senyawanya . Identifikasi senyawa organik sangat penting bagi orang yang akan menghabiskan waktunya bekerja dalam laboratorium atau orang yang akan melakukan penelitian sangat penting untuk mempelajari identifikasi senyawa organik .
Dalam mengidentifikasi senyawa organik dapat dilakukan pengujian dengan menggunakan suatu pelarut yang khusus untuk menguji suatu senyawa organik  diantaranya eter , air , larutan HCl dan lain - lain

1.2 Tujuan percobaan
Mahasiswa mampu mengidentifikasikan senyawa organik ( alkohol , fenol , aldehid , keton dan asma karboksilat )























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kimia organik didefenisikan sebagai kimia dari senyawa yang datang dari benda hidup sehingga timbul istilah organik. Suatu pengetahuan mengenai kimia organik tidak dapat diabaikan bagi kebanyakan ilmuwan. Misalnya, karena sistem kehidupan terutama terdiri dari air dan senyawa organik, hampir semua bidang yang berurusan dengan tanaman, hewan, atau mikroorganisme bergantung pada prinsip kimia organik (Fessenden, 1997).
Senyawa karbon atau yang biasa dikenal dengan senyawa organik ialah suatu senyawa yang unsus-unsur penyusunnya terdiri dari atom karbon dan atom-atom hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, halogenj, atau fosfor. Pada awalnya senyawa karbon ini secara tidak langsung menunjukan hubungannya dengan sistem kehidupan. Namun dalam perkembangannya, ada senyawa organik yang tidak mempunyai hubungan dengan sistem kehidupan. Misalnya urea yang merupakan senyawa organik dari makhluk hidup yang berasal dari urin. Urea dapat dibuat dengan cara menguapkan garam amonium sianat yang merupakan senyawa anorganik menjadi senyawa organik (Siswoyo, 2009).
Etanol biasa dikenal dengan sebutan etil alkohol, alkohol solut, alkohol murni atau alkohol saja. Rumus molekul dari etanol itu sendiri adalah C2H5OH.  Etanol termasuk dalam alkohol primer. Sifat-Sifat Etanol dibagi menjadi dua berdasarkan sifat kimanya ; reaksi asam basa, halogenasi, pembuatan ester, dehidrasi, oksidasi dan pembakaran. Berdasarkan sifat fisikanya dipengaruhi oleh  keberadaan gugus hidroksil, pendeknya rantai karbon etanol, gugus hidroksil dapat berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya dengan massa molekul yang sama. Etanol digunakan untuk bahan baku industri atau pelarut (Bettelheim, 2005).
Metanol merupakan cairan yang jernih, tidak berwarna, dan merupakan cairan yang mudah terbakar. Metanol dapat dibuat dengan mereaksikan hidrogen dengan karbon monoksida atau karbon dioksida. Metanol banyak dipakai pada industri sebagai starting material pembuatan berbagai bahan kimia, sebagai cairan pembersih kaca mobil, pembersih karburator, antibeku, toner mesin fotokopi, dan bahan bakar. Sifat fisika dan kimia metanol antara lain memiliki rumus molekul CH3OH, massa molar 32,04 g/mol dan memiliki densitas 0.7918 g/cm³. Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati bila berada dekat metanol yang terbakar untuk mencegah cedera akibat api yang tak terlihat (Ali, 2005).
Fenol berbentuk solid, berbau aromatik dan tajam, tidak berwarna. Memiliki titik didih 182°C dan titik leleh 42°C. Fenol berfungsi sebagai zat antiseptik, zat disinfektan, Pembuatan pewarna, resin. Sifat kimia yang paling penting dari fenol adalah bahwa tidak seperti alkohol, mereka bersifat asam. Fenol memiliki nilai Ka sekitar 10-10 (pKa = 10), yang membuat mereka asam lemah, jauh lebih kuat dari air tetapi jauh lebih lemah dari asam karboksilat (pKa sekitar 5) (Bettelheim, 2005).
















BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan
      1. Alat
-        Botol semprot
-        Gelas piala
-        Gelas ukur
-        Pipet tetes
-        Erlemeyer
-        Tabung reaksi + rak
-        Penjepit tabung reaksi
-        Pipet volume 5 ml
-        Batang pengaduk
2. Bahan
-        Asetron
-        FeCL3
-        Asam kromat
-        Etanol 95 %
-        NaOH 10 %
-        Aseton
-        Aquadest

3.2   Cara Kerja
3.2.1 test FeCL3 ( test karakteristik untuk fenol )
Siapkan tabung reaksi lalu masukan sample yang akan di uji , Tambahkan 5 tetes larutan FeCL3 dan dilakukan penggojokan . Jika tidak terbentuk warna menunjukan bahwa senyawa tersebut bukan senyawa fenol .
3.3.2 test asam kromat ( test karakteristik alkohol )
Siapkan tabung reaksi dan masukkan 2 ml sampel yang akan diuji kedalamnya . Tambahkan 1 ml aseton , kemudian tambahkan 1 tetes asam kromat . Warna orange dari asam kromat akan berubah menjadi biru kehijauan atau terbentuk endapan jika yang ditambahkan berupa alkohol primer atau sekunder .



























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil pengamatan
    
No
Sampel
Percobaan
Hasil Pengamatan
Keterangan
1.
Glukosa
Sukrosa
Test FeCl3
Kuning pekat
kuning
Senyawa fenol
2.
Glukosa
Sukrosa
Test asam kromat
Kuning muda
Kuning tua
Berubah warna

3.2  Pembahasan
Prinsip dari uji feri klorida adalah mendeteksi keberadaan fenol pada sampel dengan penambahan larutan feri klorida yang uji positifnya akan menghasilkan warna ungu, merah, hijau atau biru sebagai akibat dari adanya reaksi gugus OH pada fenol bereaksi dengan larutan feri klorida. Warna yang diperoleh bergantung pada subtituen yang terikat pada fenol. Dari data hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pada sampel fenol ketika ditambah reagen warnanya menjadi ungu. Artinya hasil uji feri klorida dengan fenol adalah positif. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa fenol akan bereaksi dengan feri klorida yang ditandai dengan terbentuknya warna ungu (Sudarmo, 2006).
Etanol biasa dikenal dengan sebutan etil alkohol, alkohol solut, alkohol murni atau alkohol saja. Rumus molekul dari etanol itu sendiri adalah C2H5OH.  Etanol termasuk dalam alkohol primer. Sifat-Sifat Etanol dibagi menjadi 2 yaitu berdasarkan sifat kimanya: reaksi asam basa, halogenasi, pembuatan ester, dehidrasi, oksidasi dan pembakaran. Berdasarkan sifat fisikanya dipengaruhi oleh:  keberadaan gugus hidroksil, pendeknya rantai karbon etanol, gugus hidroksil dapat berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya dengan massa molekul yang sama. Etanol digunakan untuk bahan baku industri atau pelarut. Dari data hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pada sampel etanol ketika ditambah asam kromat warnanya menjadi kehijauan.
Aldehid dan keton mengandung gugus karbonil dengan atom oksigen berikatan rangkap dengan karbon. Aldehid dan keton adalah senyawa yang penting. Beberapa daripadanya seperti atom aseton (CH3COCH3) dan metaletil keton (CH3COCH2CH3) dipakai dalam jumlah besar sebagai pelarut. Larutan formaldehid dipakai untuk mengawetkan jaringan hewan dalam penelitian biologi. Salah satu reaksi penting yang terjadi pada gugus karbonil aldehid dan keton adalah adisi ikatan rangkap karbon-oksigen.
Hasil – hasil dari praktikum yang telah dilakukan secara khusus. Aldehid dan keton memiliki sifat – sifat yang nyaris mirip satu sama lain. Namun demikian, oleh karena perbedaan gugus yang terikat pada gugus karbonil antara aldehid dan keton maka menimbulkan adanya perbedaan sifat kimia yang paling menonjol antara keduanya, yaitu Aldehid cukup mudah teroksidasi sedangkan keton sulit dan Aldehid lebih reaktif dari pada keton terhadap adisi nukleofilik, yang mana reaksi ini merupakan karakteristik terhadap gugu karbonil.














BAB VI
PENUTUP


6.1 Kesimpulan
     Senyawa organik merupakan golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia.

6.2 Saran
Dalam melakukan praktikum, praktikan hendaknya memahami alat, bahan serta langkah kerja yang digunakan sehingga kegiatan praktikum dapat berjalan dengan baik.


















Daftar Pustaka

Ali & tim Eramedia. 2005.Kamus Pintar Kimia. Publisher Eramedia.
Anonim, 2014. Penuntun Praktikum Kimia Umum. Universitas Bengkulu; Bengkulu.
Bettelheim, 2005. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. ITB ; Bandung.
Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Bina Aksara. Jakarta.
Siswoyo, Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta